Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:
تفسير القرطبي (10/ 14)
(وما ننزله إلا بقدر معلوم) أي ولكن لا ننزله إلا على حسب مشيئتنا وعلى حسب حاجة الخلق إليه
“Kami tidak menurunkan hujan kecuali berdasar takdir yang telah diketahui. Artinya Aku (Allah) tidak menurunkan hujan kecuali atas berdasar kehendak-Ku dan berdasar kebutuhan makhluk terhadapnya.”
Ayat di atas menegaskan pada kita bahwa yang terjadi pada kita adalah kehendak Allah SWT dan bukan pengaruh satu makhluk-pun. Maka sangat naif jika seorang muslim yang berkeyakinan akan kuasa Allah SWT justru mengaitkan peristiwa-peristiwa tertentu dengan makhluk yang sangat tidak berdaya dibanding Allah SWT.
Paham-paham menyesatkan yang bertentangan dengan prinsip akidah ini agaknya masih banyak di kalangan umat muslim. Sesajen (meskipun tidak semuanya) sangat rentan terkontaminasi dengan paham-paham tersebut.
Bukan rahasia lagi jika banyak oknum yang menaruh sesajen dengan alasan “takut diganggu penunggunya” atau banyak juga yang mengaitkan kesialan-kesialan yang terjadi karena lupa tak pasang sesajen. Lebih rentan lagi karena tempat-tempat menaruh sesajen biasanya merupakan tempat-tempat yang mereka asumsikan sebagai ‘angker’, ‘ada penunggunya’ atau diksi-diksi lain yang menyiratkan ada kuasa di luar kuasa Allah SWT.
Makhluk-makhluk yang ada dalam keyakinan oknum-oknum ini terkadang divisualisasikan dalam bentuk yang besar, menyeramkan, mempengaruhi hasil panen, kecelakaan, atau (mungkin saja) gunung meletus. Cerita yang beredar ini bisa saja menjadi masalah akidah serius yang menjerumuskan banyak orang pada kemusyrikan jika sudah menganggap sebagai sebuah hal yang nyata. Tentu kita semua berharap malapetaka ini tidak terjadi pada umat muslim Indonesia.


