1. Interaksi dengan Makhluk Ghaib

Islam meyakini keberadaan makhluk astral seperti malaikat, ruh, jin, dan setan. Eksistensi mereka secara jelas telah Al-Quran sebutkan berkali-kali. Orang yang tidak mempercayai keberadaan mereka bahkan akan mendapat vonis sebagai murtad karena mendustakan informasi yang ada dalam ayat-ayat tersebut.

Selain mengatur interaksi antara manusia dan manusia, Islam juga mengatur interaksi antara manusia dan makhluk astral. Termasuk aturan yang menjadi prinsip dari interaksi tersebut adalah kita, kaum muslimin, tidak boleh meminta bantuan kepada jin, serta menunjukkan sikap menghormatinya. Tidak perlu saling mengganggu namun juga tidak perlu saling membantu.

Syariat mengatur kita untuk berkehidupan selayaknya manusia pada umumnya yang menjalani kehidupan tanpa harus meminta pertolongan terhadap jin atau sebagainya.

اتحاف السادة المتقين – ( ج 2 ص 286 )

ولا يجوز الإستعانة بالجن في قضاء حوائجه وامتثال أوامره وإخباره بشيء من المغيبات ونحو ذلك واستمتاع الجني بالإنسي هو تعظيمه إياه واستقامته واستعانته وخضوعه له. اهـ

“Tidak boleh (seorang muslim) meminta pertolongan terhadap jin untuk memenuhi kebutuhannya, mematuhi perintahnya, atau memintanya agar memberi tahu tentang hal-hal ghaib.”

Sesajen juga sangat rentan akan hal ini (pemujaan dan meminta tolong pada jin). Bisa saja seseorang meyakini bahwa kuasa hanya ada di tangan Allah SWT, namun ia menaruh sesajen sebagai bentuk penghormatan terhadap jin-jin yang ia nilai ‘keramat’ di satu tempat tertentu. Penghormatan inilah yang juga menjadi kesalahan yang harus kita hindari.

Jadi, menurut kajian yang kami lakukan di atas, Islam mengakui keberadaan jin, namun melarang kita untuk meminta tolong, atau bersikap seolah kita mengagungkan mereka.

Kisah Singkat di Zaman Nabi

Sebuah kisah singkat di zaman Baginda Nabi mungkin bisa menjadi pelajaran bersama. Cerita ini termaktub dalam kitab Shahih Bukhari:

BACA JUGA :  Al-Anwar Eksis dengan Kesalafannya

صحيح البخاري (1/ 99)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ البَارِحَةَ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي “، قَالَ رَوْحٌ: «فَرَدَّهُ خَاسِئًا»

“Dari Abi Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: sesungguhnya jin ifrit datang  padaku tadi malam. Dia bermaksud untuk menghentikanku sholat. Maka Allah memenangkanku atasnya. Lalu aku berkeinginan untuk mengikatnya di salah satu sisi masjid hingga kalian semua sholat shubuh dan bisa melihatnya. Kemudian aku mengingat ucapan saudaraku Sulaiman ‘Tuhan, berikan aku kekuasaan yang tidak akan Engkau berikan kepada seorangpun setelahku’. Maka kemudian Nabi melepaskannya.”

1
2
3
4
5
Artikulli paraprakHukum Memboikot Produk Israel
Artikulli tjetërWanita Istihadlah dan Haidl, Apakah Wajib Sholat?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini