B. Komentar para Ulama tentang Mahallul Qiyam

  1. Imam Yusuf an-Nabhani Dalam Kitab Jawāhirul Biḥār

 جرت العادة بأنه إذا ساق الوعاظ مولده صلى الله عليه وسلم وذكروا وضع أمه له قام الناس عند ذلك تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة حسنة لما فيه من إظهار السرور والتعظيم له صلى الله عليه وسلم بل مستحبة لم غلب عليه الحب والإجلال لهذا النبي الكريم عليه أفضل الصلاة وأتم التسليم.

Telah menjadi kebiasaan ketika para penceramah  membaca bacaan Maulid Nabi dan sampai pada kalimat  وضعت أمه له (ketika ibunya melahirkan beliau), orang-orang berdiri untuk memberikan penghormatan, berdiri semacam ini merupakan bid’ah hasanah karena  mengandung  makna menampakkan kebahagiaan dan pengagungan pada Rasulullah , bahkan dapat tergolong sunnah saat dilakukan dengan penuh rasa suka cita dan pengagungan pada Nabi”

  1. Syekh Burhanuddin Al-Halaby dalam kitab As-Sirah al-Halabiyyah

ومن الفوائد انه جرت عادة كثير من الناس اذا سمعوا بذكر وضعه صلى الله عليه وسلم أن يقوموا تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة لا أصل لها : أي لكن هي بدعة حسنة , لانه ليس كل بدعة مذمومة . وقد قال سيدنا عمر رضي الله تعالى عنه في اجتماع الناس لصلاة التراويح : نعمت البدعة

Termasuk faedah-faedah yang biasa terjadi di masyarakat adalah saat mereka mendengar kisah kelahiran Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam, mereka berdiri untuk memberikan penghormatan. Sesungguhnya berdiri semacam ini termasuk bid’ah yang tidak ada asalnya namun ia tergolong bid’ah yang baik karena tidak setiap bid’ah itu tercela. Sebagaimana perkataan Sayyidina Umar ra ketika mengumpulkan orang untuk shalat tarawih berjamaah: ‘Sebaik-baiknya bid‘ah adalah yang ini.

  1. Habib Munzhir Al-Musawa Murid Kesayangan Habib Umar Al-Hafidz:
BACA JUGA :  Puasa Ayamul Bidl

“Mengenai berdiri saat maulid ini merupakan ungkapan dari kerinduan pada Rasul  dan bentuk semangat menyambut kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita. Hal ini lumrah saja, maksudnya bukan Nabi datang, tapi menyambut kedatangan risalah beliau, semua hukum syariah, Al-Qur’an, shalat, puasa zakat, dan yang itu semua dilimpahkan pada kita dengan kedatangan Nabi saw kepada umat ini. Maka para Ulama dan muhaddits mengambil cara berdiri, demi menambah semangat muslimin semata, karena gerakan tubuh itu selaras dengan jiwa, misalnya gerakan telunjuk menunjuk ke kiblat saat tahiyyat dalam syahadat, apa maksudnya?, apakah menunjuk Allah?, dan juga menghadap kiblat, apakah maksudnya Allah ada di ka’bah?, berarti kita menafikan Allah ada di penjuru lainnya, tentunya tidak, demikian pula berdiri dalam maulid itu, hanya menambah semangat saja”.

1
2
3
4
Artikulli paraprakPandangan Hukum Fiqh terhadap Penolakan Penerapan Hukum Syariat Islam
Artikulli tjetërPandangan Syariah terhadap Bisnis yang Mengandung Kolusi dan Nepotisme

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini