Kalau Bulan suci, Lalu apa yang dilakukan?

وَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾ أَيْ: فِي هَذِهِ الْأَشْهُرِ الْمُحَرَّمَةِ؛ لِأَنَّهُ آكَدُ وَأَبْلَغُ فِي الْإِثْمِ مِنْ غَيْرِهَا، كَمَا أَنَّ الْمَعَاصِيَ فِي الْبَلَدِ الْحَرَامِ تُضَاعَفُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ﴾ [الْحَجِّ: ٢٥] وَكَذَلِكَ الشَّهْرُ الْحَرَامُ تَغْلُظُ فِيهِ الْآثَامُ؛ وَلِهَذَا تَغْلُظُ فِيهِ الدِّيَةُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، وَطَائِفَةٍ كَثِيرَةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ، وَكَذَا فِي حَقِّ مَنْ قَتَلَ فِي الْحَرَمِ أَوْ قَتَلَ ذَا مَحْرَمٍ.

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عباس قوله: ﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا﴾ الْآيَةَ ﴿فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾ فِي كلِّهن، ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وعَظم حُرُماتهن، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالْأَجْرَ أَعْظَمَ.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kalian berbuat zhalim di dalamnya kepada diri kalian”, maksudnya yaitu: Yaitu: pada bulan-bulan haram, karena kezaliman pada bulan-bulan ini lebih berat dosanya dan lebih besar pelanggarannya dibandingkan pada bulan lainnya.

Sebagaimana maksiat di tanah haram (Mekkah) juga dilipatgandakan dosanya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya pasti akan Kami jadikan dia merasakan sebagian siksa yang pedih.” (QS. Al-Hajj: 25)

Demikian pula halnya dengan bulan haram, dosa-dosa dilipatgandakan didalamnya. Karena itu, diyat (tebusan darah) juga diperberat menurut mazhab Imam Syafi‘i dan sekelompok besar ulama lainnya, termasuk juga dalam kasus membunuh di tanah haram atau membunuh seseorang yang memiliki hubungan mahram (yang dimuliakan).

Beliau juga berkata: Dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah Ta‘ala: Maka janganlah kalian berbuat zhalim terhadap diri kalian di dalamnya”, maksudnya adalah, larangan berbuat zalim berlaku pada seluruh dua belas bulan, namun Allah mengkhususkan empat bulan di antaranya sebagai bulan haram, dan Allah menjadikannya bulan suci, mengagungkan kehormatannya, menjadikan dosa di dalamnya lebih besar, dan menjadikan amal saleh serta pahala di dalamnya lebih agung dan lebih besar.”

BACA JUGA :  Mengenal Tafsir Sunni

Dengan demikian, kemuliaan bulan Muharram tidak hanya pada sisi amal ibadah, tetapi juga dalam sisi larangan terhadap dosa dan kezaliman.

1
2
3
4
Artikulli paraprakIlqoul Mawaidz Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H di PP Al-Anwar 1 Sarang
Artikulli tjetërKeutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura di Bulan Muharram

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini