Pada mulanya orang-orang Romawi Kuno merayakan tahun baru di bulan Maret, yakni tanggal 1 Maret. Penetapan tanggal 1 Maret sebagai tahun baru adalah perintah dari sang pendiri Roma, yakni Romulus pada abad ke-8 SM yang menerapkan penanggalan dalam setahun terdiri dari 10 bulan 304 hari.
Kemudian pada masa kepemimpinan Julius Caesar, perayaan tahun baru berubah menjadi tanggal 1 Januari. Sempat berubah lagi menjadi tanggal 25 Maret, lalu oleh Paus Gregorius XIII awal Tahun Baru kembali seperti semula, 1 Januari.

Berbeda dengan Mesopotamia dan Romawi, orang-orang Yahudi merayakan tahun baru mereka pada awal bulan September sampai dengan awal bulan Oktober, yakni tanggal 6 September sampai 5 Oktober. Orang Yahudi menyebutnya dengan nama Rosh Hashanah.
Bulan Oktober, Awal Tahun Sebenarnya
Menurut penuturan KH. Maimoen Zubair, beliau mendengar dari gurunya, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, bahwa perhitungan falak Syekh Yasin yang merujuk pada penggalan surah at-Taubah ayat 108, tahun baru sebenarnya jatuh pada bulan Oktober. Dalam firman Allah:
لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ
“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya.”
- At-Taubah: 108
Ayat ini turun pada saat Rasulullah SAW hijrah menuju Madinah dari kota Makkah. Masjid yang terdapat pada ayat tersebut adalah Masjid Quba, terletak sekitar 5 km arah tenggara dari kota Madinah dan pembangunannya bertepatan dengan awal bulan Oktober.
Makna “Di Awal Hari” pada ayat tersebut berarti hari pertama di awal tahun yang mengindikasikan bahwa awal perhitungan penanggalan matahari sejak matahari berada di selatan. Firman Allah pada surah al-Quraisy ayat 1-2 juga mendukung gagasan Syekh Yasin ini.
Allah berfirman:
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِۚ (2)
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy {1}, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. {2}”
- Quraisy: 1-2
Pada ayat ini Allah lebih dulu menyebut kata Syitaa yang berarti musim dingin, baru kemudian Allah menyebut kata Shaif yang berarti musim panas. Artinya awal kali titik balik atau ekuinoks musim gugur-dingin pada bulan Oktober dan posisi matahari berada di sebelah selatan.
Sejarah Sebelum Tahun Masehi
Sebelum seperti sekarang ini, orang-orang pada zaman sebelum populernya penanggalan Masehi sudah memiliki penanggalan mereka sendiri sesuai suku, daerah, kepercayaan, atau wilayah kerajaan masing-masing.
Peradaban tertua di dunia, Babilonia, Mesopotamia memiliki kalender penanggalan mereka sendiri. Kalender Babel atau Babilonia adalah kalender lunisolar atau suryacandra yang 1 tahunnya terdiri dari 12 bulan lunar, masing-masing berawal ketika bulan sabit baru terlihat di ufuk barat saat matahari terbenam.
Sama-sama menggunakan kalender lunisolar, orang-orang Yahudi pertama kali mencetuskan kalender mereka sekitar sebelum abad ke-7 SM. Kalender Yahudi ini dimulai dari musim gugur, dan setiap bulannya terdiri dari 29 atau 30 hari.



Sangat mencerahkan. Trima kasih
Admin