Toleransi dalam ajaran Islam
Islam telah mengajarkan toleransi dalam hal prilaku sosial, bukan dalam urusan akidah bahkan sampai mengorbankan agama dan keyakinan.
Toleransi merupakan sikap saling menghormati, saling menghargai, dan tidak memaksakan kehendak. Karenanya, seorang muslim boleh menjenguk tetangga non-muslim yang sakit, memberinya hadiah, dan tidak boleh mengganggu serta menyakitinya. Tidak ada toleransi dalam agama dan akidah, yang ada hanya toleransi dalam perilaku sosial.
Adapun mengucapkan selamat atas perayaan hari raya tersebut, ini bukan toleransi yang Islam ajarkan. Sebab, melakukan perbuatan-perbuatan tersebut berarti telah ikut serta dan larut dalam prosesi hari raya mereka, yang sangat erat dengan keyakinan dan akidah yang mereka yakini.
Maka dari itu, Jika ada sebagian kelompok yang mengatakan, Mengapa kamu tidak mau mengucapkan selamat natal. Bukankah itu hanya sekedar kata-kata biasa?
Mengucapkan selamat Natal juga akan berpengaruh terhadap akidah keimanan kita. Sebab, ucapan selamat Natal adalah bentuk keridhaan dan persetujuan seseorang terhadap perayaan Natal yang merupakan syiar dan simbol kekufuran.
Ucapan seseorang harus selalu mereka jaga. Terkadang seorang mengucapkan sesuatu yang dia anggap sepele, ternyata dapat menjerumuskannya ke dalam dosa besar. Jangan karena kita takut membuat manusia tersinggung, tapi kita berani membuat Allah SWT murka.
Alih-alih mengucapkan selamat natal atas nama toleransi, menjaga perdamaian, menghargai perasaan, menjaga hubungan baik antar sesama, justru mereka berani membuat Allah murka. Na’udzubillah
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Sungguh ada seseorang yang mengucapkan suatu kalimat yang membuat Allah murka. Ia menganggap perkataan itu biasa saja, padahal hal itu menjerumuskannya ke dalam neraka Jahannam sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani).
Jadi janganlah kita termasuk orang yang mendapatkan murka Allah karena kalimat yang kita ucapkan, dan kita merasa ucapan ini biasa saja dan ringan atas nama kemanusiaan, padahal bisa jadi ucapan tersebut berakibat fatal karena telah menghalalkan perkara yang haram.
Wallahu a’lam.


