Kemulyaan Sayyidina Ali

Kita ini ahlu ilmi, mengikuti Sayyidina Ali, beliau punya murid Abu Aswad Adu’ali yang mengarang Asas-asas Nahwu, beliau merawat orang-orang Ajam, anak-anak Sayyidina Hasan Husein, dan juga murid-murid budak untuk dibekali ilmu. Inilah idola kita, panutan kita, keluarga rosulululah yang kita cintai. Juga menjadi idola kita dalam mengajar dan mengaji, termasuk ngaji fiqih, hadis, nahwu, dsb.

Kita harus bersyukur bisa mengaji. Hal ini berkah Ahlu Sunah wal Jamaah, kadang orang tidak Ahlu Sunah wal Jamaah lebih cerdas dari pada kita. Tetapi kebanyakannya kepintaran mereka hanya menjadi batu loncatan untuk ambisi politik, kekuasaan dan pemerintahannya.

Kalau orang Ahlu Sunah wal Jamaah itu Ayem (tentram dengan ilmu). Sayyidina Ali menikmati menjadi Kholifah, tapi beliau tahu bahwa tidak akan lama khilafahnya karena berbagai faktor. Termasuk pendukung Sayyidina Ali  yang namanya Syiah. Kebanyakan dari Ajam, sisa-sisa dari Persia, satu dengan lain punya masa lalu dendam-dendaman dst. Jadi Sayyidina Ali sudah merasa kalau saya tinggal, tidak akan bisa terus ke Hasan Husein, jadi ini takdirnya Allah.

Misalkan Sayyidina Ali, Hasan dan Husein lama menjadi Kholifah hingga mencapai 12 kholifah misalnya dari anak turun Ali, nanti malah dibilang keluarganya kanjeng nabi kerajaan, kan tambah repot. Kalau tidak ada hubungan dengan ahli bait, kekhilafahan oleh bani Umayyah sebagaimana yang terjadi dan banyak terjadi ke dholiman-kedholiman.

Kesimpulan Kisah

Wal hasil, seolah-olah Allah Sudah mentakdirkan, kenapa, Hasan Husein tidak mencicipi Khilafah. Hasan hanya sebentar, Husein tidak mencicipi dan juga anak keturunanya. Semua ini adalah kehendak Allah, karena Allah berfirman: 

ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS: al-Azhab 33)

Kalau menjadi khilafah dengan kuat akhirnya akan ada banyak kedholiman atau tidak adil dalam pemerintahan.

Sebagian dari mereka ada yang menjadi kholifah, Raja, Daulah tapi tidak lama. Addarisah Hassaniyah di Maroko, Bani Idris Stani Wafat diracun di zaman Abbasiayah,

BACA JUGA :  SEMANGAT SUMPAH PEMUDA UNTUK NEGERI

Daulah Abbasiyah

Daulah Ustmaniyah diganti menjadi Daulah Abbasiyah, di satu sisi kita senang (seneng) dengan Abbasiyah, di satu sisi kita tidak terlalu senang (gak patiyo seneng) dengan Daulah Abbasiyah. Apa sisi senangnya? Abbasiyah ini keturunan Abbas bin Abdul Mutholib dari Bani Hasyim dan masih keluarga dekat dengan Rosulullah SAW. Meskipun Hasan Husein tidak menjadi kholifah, masih lumayan masih Ada keturunan Bani Hasyim. Akan tetapi meskipun mereka Bani Hasyim mereka tidak suka dengan Hasanin dan Huseinin, kerena mereka takut kalau mereka bangkit, punya Pamor dan kekuasaan. Mereka akan menghancurkan Abbasiyah, itulah dunia.

            Daulah Abbasiah menjadi pemerintah punya militer yang kuat, pada zaman bani  Ummayah pemegang militer adalah al-Hajaj al-Tsaqofiyin. Tetapi pada Zaman Abbasiayah pemegang Militer adalah orang Ajam yaitu kelompok Abi Nuwas, yang menopang pemerintahan Abbasiah adalah kelompok abu Nuwas. Kemudian setelah Abbasiyah menjadi besar, kelompok Abu Nuwas ini dihancurkan (dihabisi sendiri) oleh Abbasiyah. Kemudian Abbasiyah mengandalkan kepintaran orang Turki dalam urusan militer.

            Pada zaman Bani Saljuk Abbasiyah menjadi boneka, karena yang memimpin pemerintahan adalah bani Saljuk. Kemudian hancur oleh aliran kebatinan seperti Syiah batiniyah, Ismailiyah batiniyah. Hingga akhirnya muncul orang-orang Turki yang mengalahkan aliran-aliran kebatinan tersebut. Kemudian munculah khilafah Ustmaniyah.

Antara Daulah Saljuk dan Turki Utsmani ada namanya Daulah Mamalik. Kalau Daulah  Saljuk ini pada zaman Imam Ghozali dan imam Haromain, mendirikan madrasah Nidhomiyah yang membuaat mengkel orang Syiah Batiniyah di daerah Irak, Khurasan, dll. Tapi di Mesir muncul orang-orang Ismailiyah  Daulah Fatimiyah, dan Daulah ini hancur (tumbang) terkalahkan oleh Sholahudin Al-Ayubi.

Idola kita Sayyidina Ali, Imam-imam Mujtahid, Sholahudin al-Ayubi, Habib-Habib, seperti yang Mengarang Ratib al-Haddad, ini adalah cerita Ahlu Sunnah wal Jamaah dari masa ke masa.

1
2
3
4
5
6
Artikulli paraprakMEMOHON SYAFA’AT NABI
Artikulli tjetërAJAKAN IMAM TASAWWUF MENGAPLIKASIKAN SYARIAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini