Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq
Kita sebagai Ahlu Sunnah Wal Jamaah harus bangga dengan baginda nabi sebagai penutup para nabi serta nabi yang paling utama. Kemudian juga bangga dengan Sayiidina Abu Bakr Asshidiq beliau meskipun secara sejarah menjadi kholifah hanya sebentar sekitar 2 tahun lebih 6 bulan. Karena kehebatan seseorang tidak ditilik dari nasib dan karirnya, akan tetapi dari sisi mental, perjuaanga, dan akhlaqnya.
Ketika beliau menjadi kholifah, Kholid bin Walid menjadi andalan beliau sebagai panglima perang atau terkenal dengan juyus kholid pimpinan pasukan perang. Jika tidak ada Kholid bin Walid, mungkin juga tidak akan ada prestasi gemilang yang umat islam raih di negeri Syam. Prestasi tersebut adalah mengalahkan tentara-tentara Romawi Timur.
Sayyidina Umar bin Khatab
Setelah Sayiidina Abu Bakr, Sayyidina Umar bin Khatab melanjutkan penyerangan dan penaklukan dengan tentara-tentara dan komandan-komandan selain Kholid bin Walid.
Setiap munusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tapi ruhul jihad, ruhu muqowamah, ruhu nasrul islam telah rosulullah hembuskan kepada Sayiidina Abu Bakar juga kepada Sayyidina Umar. Akhirnya Sayyidina Umar melengkapi Futuhat-Futuhat penaklukan di negeri Syam, juga penaklukan di negeri Persia.
Secara analisa kita tidak bisa membayangkan bagaimana bisa meluas seperti itu kalau Khilafah tidak Sayyidina Umar pegang. Kita tidak usah cengeng dan terlalu larut dalam masa lalu, yang penting kita sebagai Ahlu Sunah harus bersyukur. Jika kamu jadi orang Syiah kamu tidak bisa bersyukur atas kehebatan Sayyidina Umar yang memperluas negeri-negeri Islam.
Beliau syakhina KH. Muhammad Najih MZ. bercerita: di saat ibadah Umroh bulan Shofar tahun kemarin beliau menemukan orang-orang Syiah berziarah kemakam rosulullah. Akan tetapi mereka terus jalan tanpa berhenti (mandek leren) sambil mengutuk Sayyidina Umar dan Sayyidina Abu Bakar naudzubillahmindzaalik. Beliau mengajak kita bersyukur sebagai Ahlu Sunah tidak benci (mangkel) dengan Sayyidina Umar dan Sayyidina Abu Bakar.
Sayyidina Ustman bin Affan
Kemudian khilafah selanjutnya oleh Sayyidina Ustman bin Affan. Orang-orang Syiah benci (mangkel), kenapa tidak Sayyidina Ali yang memegang kholifah. Beliau syaikhina mengungkapkan bahwa beliau adalah pencinta Sayyidina Ali bukan Pencinta Syiah. Kenapa setalah Sayyidina Umar kok tidak Sayyidina Ali, itu sudah takdir Allah supaya Islam bertambah luas.
Di zaman Sayyidina Ustman ada penugasan pengumpulan al-qur’an, jika bukan Sayyidina Ustman yang mengumpulkan al-quran kemungkinan tidak bisa. Karena yang banyak menulis al-Qur’an adalah Zaid bin Tsabit, beliau condong (mailnya) kepada Sayyidina Ustman dan kurang mail kepada Sayyidina Ali. Dan itulah hikmah dari Allah SWT.
Kemudian Sayyidina Ustman mendapat pemberontakan dari orang-orang yang mengaku sebagai pendukung Sayyidina Ali. Kelompok dari Kufah, Basroh, dan dari Mesir khususnya. Sehingga akhirnya yang menjadi Kholifah setelah Sayyidina Ustman terbunuh adalah Sayyidina Ali bin Abu Tholib.


