Sayyidina Ali bin Abu Tholib.
Kemudian muncul permasalahan, dari pembrontak yang mengaku pencinta Sayyidina Ali. Hingga akhirnya Sayyidina Ali dicurigai oleh kelompok Muawiyah yang bersengkongkol dengan pemberontak sehingga terjadi peperangan yang bermula dari pembrontakan dari Sayyidah Aisyah. Kemudian terjadi juga perang Siffin, hingga kemunculan kelompok Khowarij.
Era Tabi’in
Di zaman tabiin muncul kelompok mustaghil bil ilmi atau bil ijtihad, ada juga yang bi riwayati ahadis. Selanjutnya ada yang berijtihad, seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, ada juga yang urusan Qiroah Sab’ah. Jadi mereka tidak terlalu mengurus hiruk pikuk pemerintahan, ini uniknya atau hebatnya Allah SWT. Dan uniknya manusia itu sendiri, manusia itu fleksibel makhluk paling unik. Manusia yang bikin ruwet (kacau) tapi juga bisa menghindar dari kekacauan. Dunianya ruwet, lingkunganya ruwet, tapi bisa membuat kesibukkan. Marilah kita menjadi manusia-manusia yang agak hebat, kalau sangat hebat seperti kehebatan orang terdahulu itu susah.
Yang paling penting meskipun dunianya ruwet kita terus ngaji, itu namanya fana kalau menurut pandangan ilmu tasawuf. Maksudnya: ndonyone ruwet tapi ora ngroso ruwet, lesu tapi gak patek ngrasakne lesu,” tapi ojo omong: warek tapi gak ngrasakne wareq engko piye malah mongan-mangan ae” pesan beliau.
Mari kita ikuti, tidak bisa mengikuti para sahabat, tidak bisa mengikuti nabi Muhammad Persis. Maka dengan mengikuti para tabiien, yakni memiliki kesibukan dalam ilmu dan tidak menganggur. Beliau berpesan “ojo dadi wong pengangguran, ojo dadi wong klontang-klantung, ojo mbongkang-mbangkong, ojo tura turu. Kito buat ketungkulan ngaji, apalan, moco kitab, hadir neng pengajian, mulang, ngaji al-quran, resik-resik kamar, resik -resik komplek, ojo dadi wong nganggur, ojo dadi wong seng pemalas, dadi wong seng kreatif, ngaji seng semangat”.
Kelebihan Ahlu Sunnah
Kita bersyukur menjadi Ahlu Sunah Wal Jamaah, bukan berarti kita tidak cinta sayyidina Ali. Kita cinta Sayyidina Ali, beliau itu sepupu baginda Nabi, menantu, juga murid pertama sebelum ada Islam. Sayyidina Ali di rawat oleh nabi sebagai balas budi baginda nabi kepada Abu Tholib, kerena sudah ditanggung dan dirawat oleh Abu Tholib. Setelah Abu Tholib meninggal baginda Nabi merawat Sayyidina Ali seperti anaknya sendiri.
Sayyidina Ali harus kita cintai karena ada ayat:
فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ
“Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah, agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.”(QS:al-Imran, 61)
اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ : Hasan dan Husein
وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ: Fatimah
وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ : baginda nabi dan Sayyidina Ali siap mubahalah dengan nasroni najron
Anaknya Sayyidina Ali adalah keturunan Rosulullah, dan itu ada hadisnya Allah menjadikan keturunan-keturunan Rosulullah dari Shulbi Sayyidina Ali.
Kita mencintai Sayyidina Ali, tapi kita tetap Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Sebab kalau kita tidak Ahlu Sunnah maka akan membenci dan melaknat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar naudubillahmindzalik. dan itu bukan tipenya Sayyidina Ali, kita yakin Sayyidina Ali adalah Ahlu Sunnah Wal Jamaah menghormati Khilafahnya Sayyidina Abu Bakar. Bahkan beliau mengambil perempuan tawanan perang Sayyidina Abu Bakar dari perempuan bani Hanifah, dan punya anak bernama Muhammad Ibnu al-Hanifiah, menjadi saudaranya Hasan dan Husein dari ibu yang berbeda.
Di zaman Sayyidina Umar, Sayyidina Ali mendapat perempuan putrinya Raja Persia. Sayyidina Umar memberikan kepada Sayyidina Ali, kemudian beliau berikan Kepada Sayyidina Husein dan melahirkan Ali Zainal Abidin. Ada lagi putrinya Raja Persia yang Sayyidina Umar berikan kepada Ibnu Umar kemudian lahir Salin bin Ibnu Umar ibunya adalah putri raja Persia hasil perang pada zaman Syidina Umar. Pada khilafah Sayyidina Ustman Sayyidina Ali juga menghormati dan pernah mendapat perintah untuk mencambuk keluarganya Sayyidina Ustman yang meminum arak.


